Sunday, November 15, 2009

Things that make my heart melts: Gifts from the heart.

*an extremely late birthday posting :D*

Yes, my birthday was last month, October 16th. Posting ini telat BUKAN karena hari itu tidak special, tapi justru karena TERLALU special *agak ngeles sih sebenernya, hehehe*. Kalau boleh beralasan, yah… belakangan ini memang sibuk banget, merintis karir jadi konglomerat (nah loh??), makanya susah banget mencuri ‘me-time’ di depan komputer. Selalu aja ada yang dikerjain.

Anyways. The birthday was superfun. Bukan hanya satu hari, tapi berhari-hari!

I did not expect anything at all, secara ya, it was my, ehm… 28th birthday, no big deal. But when I woke up that morning, the other side of the bed was empty, and I found a letter instead. A lovely letter from the love of my life. Nggak Cuma itu, dia juga memberiku hadiah: sebuah voucher… huhuhu…

Jadi, kalo seandainya si abang minta dipijetin, dan teryata aku sedang males/capek/nggak mau aja mijetin dia, aku bisa ngasih voucher ini. Jadi dia nggak boleh marah kalo nggak jadi dipijet, heheheh!

I had to ‘work’ that day. Motret acara keluarganya si abang. Dan guess what? Setelah acaranya selesai, beberapa keponakan menahanku untuk jangan pulang dulu, dan tiba-tiba taraaaa… ada cake coklat besar dan enak diatas meja! What a beautiful surprise! (sampe nggak enak sama yang punya hajat asli, hihihi). Si abang sampe bengong, ponakan-ponakannya nggak pernah tuh buat surprise begitu sama dia. Kok yaaaaa… pas aku ulang tahun malah di gituin. Heheheh…

Aku juga dapet hadiah ulang tahun yang manis dari ponakan-ponakan kecilku. Kayla yang kelas satu SD dan Ubit yang masih TK.



This one is from Kayla... *tadinya dia kira aku berumur 26 tahun, heheh.. mauuuu*



and this one is from Ubit. So sweet...


Dan seminggu setelah itu, tepatnya pas pesta blogger kemaren, aku merayakannya dengan sahabat-sahabat baikku, di Amigos. This one was so special! Soalnya bener-bener de ja vu. Ulangtahunku ke 21 juga dirayain di resto meksiko. Kalo dulu perayaannya diwarnai dengan ‘pemaksaan’ untuk pake sombrero, had the entire room singing happy birthday for me, kue yang dipasangi kembang api plus lengkingan priwitan yang meriah, yang sekarang ini sombreronya dipake dengan sukarela demi mengenang nostalgia, had the band on stage singing happy birthday, kue yang yummy dengan strawberry dan yang terahir towet-towet horn yang astaga bunyinya!

And of course, another unforgatable birthday present from Qiya, my bestfriend’s daughter.
ucapannya: "semoga panjang umur, sehat walafiat dan tambah pinter, amin." hehehe... Amiiinn.. semoga tante dinda tambah pinter yaaaaa...

I also got a wonderful blogpost as a birthday present from a dearest friend (sengaja nggak di link, heheh… A beautiful post yang membuat mata berkaca-kaca. (Love you, dearest stranger!!)

Thank you all! Terimakasih juga buat yang meng sms dan mengirim ucapan selamat. Really really appreciate it. It’s nice to know that you guys still remember me. I know I have been ‘gone’ for quite some times, but I want you to know, you guys are always on my mind. Muah!

Wednesday, October 28, 2009

Sumpah Pemuda Bagian 3: Dan Pelajarannya Adalah....

Konflik silih berganti muncul. Dari yang kecil sampe yang besar. Dari masalah anggota yang datang telat pas latihan performance, sampe masalah uang community development yang ‘disunat’ sama oknum-oknum pejabat setempat. Dari masalah pacaran antar sesama peserta (ehm!) yang jadi bahan omongan orang sekampung, sampe counterpart yang batal datang ke Indonesia karena Bom Bali pertama.

Tapi, dibalik semua konflik yang kayaknya bikin kepala puyeng dan tidur tak nyenyak selama enam bulan itu, ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik.


Kalau nggak ikut program pertukaran itu, aku nggak bakal pernah bener-bener ngerasain kalo Indonesia ini terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku bangsa, dan macem-macem orang yang punya latar belakang dan kebudayaan berbeda. Dan betapa SUSAHNYA, menyatukan visi misi.

Soalnya, kadang-kadang biarpun TUJUANnya udah sama, tapi kerjakan dengan cara yang berbeda dikit aja, udah bisa bikin sebagian orang ngamuk-ngamuk! Padahal, nggak ada yang salah juga. Cara yang berbeda bukan berarti salah kan?

Aku belajar menerima perbedaan budaya sepanjang program. Belajar bertoleransi dengan orang lain. Belajar untuk sesekali diam dan mendengarkan pendapat orang lain. Belajar untuk menghargai, siapapun orangnya.

Kalo nggak ikut program itu, aku nggak akan pernah menangis waktu nyanyiin lagu “Indonesia tanah air beta…” sambil mencium bendera. Nggak akan pernah merasaan kebahagiaan yang berbuncah-buncah saat orang-orang bule itu memberikan standing ovation pada pertunjukan tari kolosal Rebana Aceh yang kami sajikan. Kalo nggak ikut program, mungkin aku nggak akan segitu sadarnya dengan kekayaan budaya Indonesia yang melimpah ruah dan biking menganga.


Hari Sumpah Pemuda kali ini, membuatku membolak-balik album lama dan mendapati diriku tersenyum bahagia. Bahagia, karena aku bangga jadi orang Indonesia. Jadi pemuda Indonesia.

(selesai)

Sumpah Pemuda Bagian 1: Siapa Mereka?


I love this picture!

Foto ini diambil di salah satu ruang kelas di Glenroi Public School di Orange, NSW Australia, sekitar November 2002. Aku dan teman-teman berada disana untuk ‘school visit’, kunjungan ke sekolah untuk presentasi budaya Indonesia sebagai bagian dari Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia.

Sebelum pada bubar dan ganti kostum, kami menyempatkan berfoto bersama. Yang berdiri paling kiri pakai baju merah itu Arzal dari Gorontalo, pemain gitar handal bersuara serak-serak basah. Disampingnya Armand dari Bandung, pesilat merangkap penyanyi RnB. Lalu Iqbal dari Aceh, yang jago ngaji tapi suka flirting. Kemudian Dian, gadis metropolis dari Surabaya. Dibelakangnya, Adi dari Nusa Tenggara Timur, sosok nasionalis nan idealis.

Perempuan disebelah dian itu Julia dari Nusa Tenggara Barat, anak teater yang jago baca puisi. Yang baju merah disamping Julia adalah Opik, dari Sulawesi Tenggara. Dibelakangnya, yang senyum simpul pake topi juga, adalah Bang Hendrik, seorang model dari Manado. Dan yang sedang mangap lebar kegirangan itu bang Zul, dari Riau. Disebelahnya ada Petty, dari Gorontalo, the group’s songbird dan terakhir ada Mila dari Palu, si fotografer yang hobi difoto!

Yang ada di deretan bawah sebelah kiri yang agak jongkok itu adalah Ifit, group leader dari Banjarmasin. Disebelahnya adalah wajah yang tak asing lagi: aku, hehehe… si trouble maker dari Medan. Lantas ada Ros, muslimah dari Makassar, disusul Ari dari Palembang yang juga group leader, dan terakhir Dewi dari Padang. Dua orang lagi, Septy dari Jambi dan Iwis dari Bengkulu tidak ikut berfoto.

Sekitar enam bulan kami menghabiskan waktu bersama di Sydney, Orange, Malino dan Makassar pada tahun 2002/2003. Dan foto ini, bagiku, adalah salah satu foto yang bisa menangkap semangat program itu.

Semangat kebersamaan dalam perbedaan.

Sumpah Pemuda Bagian 2: Program Itu…

Pada awal pertemuan, kami hanyalah sekelompok anak muda culun berusia awal duapuluhan yang datang dari daerah. Selama seminggu kami berdelapan belas diberi pelatihan tentang program, sebagai persiapan untuk ‘diekspor’ ke Australia.

Bagaimana sebaiknya berhubungan dengan keluarga angkat atau rekan sekerja, bagaiman sopan santun selama courtesy call dengan pejabat atau etika internasional. Bagaimana mengemas pertunjukan singkat namun bermakna, termasuk untuk menguasai beberapa tari daerah sekaligus. Semua dalam waktu seminggu itu.

Pada akhir pelatihan, kami berdelapan belas pergi ke Australia. Kami disebar dan tinggal bersama berbagai model keluarga angkat. Kami juga magang kerja di berbagai institusi. Dan satu hari setiap minggu, kami mengunjungi sekolah-sekolah untuk ‘memperkenalkan’ Indonesia, utamanya dengan pertunjukan tari dan nyanyi. Ini dilakukan di Sydney dan Orange, kota kecil 3 jam nyetir dari Sydney.


Setelah tiga bulan begitu, kami lalu bertemu counterpart, 18 pemuda Australia, dan kembali ke Indonesia, ke Makassar. Melakukan hal yang kurang lebih sama, tapi ditambah kegiatan community development, di Malino.


Interaksi yang timbul luar biasa kompleks, setidaknya menurut ukuranku saat itu. Bagaimana tidak? Waktu itu aku belum pun genap berusia 21. Emosi masih labil (kayaknya kalo yang ini sampe sekarang, heheh!). Tapi aku harus bertoleransi dengan 17 orang lain yang punya latar belakang berbeda, disaat yang sama! Kami harus mengerjakan project bersama, tapi semua punya hak sama untuk bersuara. Semuanya punya ide. Semuanya merasa idenya paling benar!

Belum lagi, aku harus beradaptasi dengan keluarga angkat yang punya kebiasaan berbeda. Juga kolega di tempat kerja yang kadang tak tau harus menyuruh aku apa. Ditambah berbagai culture performance dimana-mana… oh… tidak…

(bersambung)

Tuesday, October 27, 2009

Yogurt Attack!

Jauh sebelum Personale photo diluncurkan – masih berupa ide, konsep, mirip angan-angan – aku membuat beberapa rencana bisnis. Rencana ‘amatiran’ ini dibuat berdasarkan hasil tanya kiri-kanan ke temen-temen yang lebih dulu berbisnis, baca-baca buku dan pengalaman orang lain, plus tanya ke diri sendiri.

Setelah meluncurkan Personale, aku kemudian mengeksekusi business plan yang lain: usaha Yogurt. Usaha ini dimulai selepas lebaran kemaren dan diberi label NATURALE – home-made yogurt, yogurt rasa buah seperti stroberi, leci, anggur, mangga dan melon.


Sebenarnya, rencana ini sudah ada sejak lama. Niat awalnya adalah membantu kakak iparku yang membuat Yogurt yang super duper enak banget (menurut aku yaaaa!) di Bandung.

Selain itu, kupikir berjualan yogurt bisa membuat aku belajar untuk bertemu langsung orang-orang. You know… doing the ‘actual’ marketing stuff yang biasanya ‘agak malu’ buat dilakukan. Yah, dengan kata lain: memperkuat mental, hahahah!

Oke, jadi wartawan juga ketemu banyak orang dan mesti siap ‘malu’. Tapi, terus terang, ada perbedaan yang BESAR antara keduanya. Jadi wartawan itu banyak previlegenya, kita ‘seolah-olah’ equal dengan nara sumber, dan selalu menempatkan diri di posisi sejajar dengan mereka. Tapi kalo jualan? Boooo… boro-boro! Kalo produk yang dijual nggak oke, dilirik juga nggak!

Serunya, Yogurt kami diterima dengan sukses! Pertama kali dibawa adalah ke acara buka puasa bersama di kompleks. Begitu bedug magrip bunyi, itu yogurt langsung abis! Lalu, aku menawarkannya ke tempat makan bubur ayam langganan aku dan abang di kompleks. Disana juga diterima dengan baik.

Sampai kemudian aku dan abang iseng bertanya ke pengurus salah satu sentra komunitas dalam kompleks yang sering rame bazaar sarapan tiap weekend. Ternyata… ada satu lagi meja kosong! Tanpa harapan tinggi kami memulai. Eeehhh… ternyata nggak sampe dua jam, semua yogurt yang dibawa udah habis!!!

Yang paling rewarding adalah melihat wajah orang-orang saat menyeruput yogurt: kayaknya menikmatiiii banget. Terus senyum sumringah dan bilang, “Enaaakk..!”. Wah, itu rasanya luar biasa! Yang ada si abang selalu ‘ngeledek’, katanya wajahku bersinar-sinar hepi dan segar setiap kali selesai dari bazaar. “Kamu jadi cantik kalo abis jualan yogurt!” Halah!

Nggak cuma itu, we took it to the next level! Thanks to Mbak Chika, dan panitia pesta blogger 2009, aku berjualan yogurt di Bazaar pesta blogger. Hasilnya??? Wuaaaahhh… dari hampir 600an cups yang dibawa, hanya ada sedikit yang tersisa! Yippee!

Bahkan, Stormtrooper (yang ternyata adalah mas wahyu aditya yang terkenal itu!) juga nagih sama yogurtnya, hahaha!

Walaupun jadi nggak bisa bebas haha-hihi di pesta blogger, tapi jadi hepi banget bisa jadi tempat buat ‘melepas dahaga’ para partisipan yang bener-bener kehausan!

Oh, I know, Naturale Yogurt rocks!

Tuesday, October 13, 2009

jangan berhenti.

Sepuluh tahun lalu, aku menerimanya dengan penuh sukacita: sebuah hadiah istimewa dari sahabat. Kuberi ia bingkai dan kugantung di diding kamar. Membaca setiap kalimat dan meresapi artinya dalam-dalam. Tidak jarang sambil mengusap air mata yang bercucuran, disaat-saat yang paling melelahkan. Bahkan hingga kini, ia terlihat selalu relevan.

Hari ini, aku akan kembali menggulirkannya, memberikannya ke tangan-tangan yang mungkin akan membutuhkan, sebagai kawan selama perjalanan...


Don't Quit

by Edgar A. Guest (1881-1959)

When things go wrong, as they sometimes will,
when the road you're trudging seems all uphill,
when the funds are low and the debts are high,
and you want to smile but you have to sigh,
when care is pressing you down a bit -
rest if you must,
but don't you quit.

Life is queer with its twists and turns.
As everyone of us sometimes learns.
And many a fellow turns about
when he might have won had he stuck it out.

Don't give up though the pace seems slow -
you may succeed with another blow.
Often the goal is nearer than
it seems to a faint and faltering man;
often the struggler has given up
when he might have captured the victor's cup;
and he learned too late when the night came down,
how close he was to the golden crown.

Success is failure turned inside out -
the silver tint of the clouds of doubt,
and when you never can tell how close you are,
it may be near when it seems afar;
so stick to the fight when you're hardest hit -
it's when things seem worst,
you must not quit.

Friday, September 18, 2009

Selamat Lebaran!

Sarang ketupat check. Daging sapi check. Bumbu rendang check. Santan check. Teri medan check. Kacang tanah check. Tempe check. Telur puyuh check. Labu siam check. Kacang panjang check. Wortel check. Cabe ijo keriting check. Bumbu dapur check. Semua ada, masukin ke bagasi!

YEAH! Lebaran tahun ini, for the very first time in my life, aku akan masak sendiri: Lontong ketupat medan style! Dengan sedikit dimodifikasi, tentunya. Lontongnya pake ketupat, terus pakai rendang daging, pake sambal goreng teri-kacang, terus tauco tempe-telurpuyuh, dan sayur labu. Hmmm... nyam!

Aku bersemangat! Pulang dari pasar, nyetir sendirian di sepanjang boulevard kompleks dengan jendela terbuka, sambil denger GMHR kenceng-kenceng: semuanya terasa beda! Biarpun lebaran ini nggak mudik ke Medan, tapi hati tetap senang!

Jadiiiii... buat yang nggak mudik yukkkk datang ke rumahku! Mumpung Jakarta gak macet, Cibubur mah bisa ditempuh dalam 15 menit dari kota! hahahah! Kemaren aku juga udah buat kue andalan sejuta umat (cornflakes, kacang mede, coklat chips yang diaduk dalam coklat cair, yummy!). Doakan tahun depan udah bisa masak cookies sendiri ya!

Selamat lebaran semuanya!!!