Wednesday, October 28, 2009

Sumpah Pemuda Bagian 3: Dan Pelajarannya Adalah....

Konflik silih berganti muncul. Dari yang kecil sampe yang besar. Dari masalah anggota yang datang telat pas latihan performance, sampe masalah uang community development yang ‘disunat’ sama oknum-oknum pejabat setempat. Dari masalah pacaran antar sesama peserta (ehm!) yang jadi bahan omongan orang sekampung, sampe counterpart yang batal datang ke Indonesia karena Bom Bali pertama.

Tapi, dibalik semua konflik yang kayaknya bikin kepala puyeng dan tidur tak nyenyak selama enam bulan itu, ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik.


Kalau nggak ikut program pertukaran itu, aku nggak bakal pernah bener-bener ngerasain kalo Indonesia ini terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku bangsa, dan macem-macem orang yang punya latar belakang dan kebudayaan berbeda. Dan betapa SUSAHNYA, menyatukan visi misi.

Soalnya, kadang-kadang biarpun TUJUANnya udah sama, tapi kerjakan dengan cara yang berbeda dikit aja, udah bisa bikin sebagian orang ngamuk-ngamuk! Padahal, nggak ada yang salah juga. Cara yang berbeda bukan berarti salah kan?

Aku belajar menerima perbedaan budaya sepanjang program. Belajar bertoleransi dengan orang lain. Belajar untuk sesekali diam dan mendengarkan pendapat orang lain. Belajar untuk menghargai, siapapun orangnya.

Kalo nggak ikut program itu, aku nggak akan pernah menangis waktu nyanyiin lagu “Indonesia tanah air beta…” sambil mencium bendera. Nggak akan pernah merasaan kebahagiaan yang berbuncah-buncah saat orang-orang bule itu memberikan standing ovation pada pertunjukan tari kolosal Rebana Aceh yang kami sajikan. Kalo nggak ikut program, mungkin aku nggak akan segitu sadarnya dengan kekayaan budaya Indonesia yang melimpah ruah dan biking menganga.


Hari Sumpah Pemuda kali ini, membuatku membolak-balik album lama dan mendapati diriku tersenyum bahagia. Bahagia, karena aku bangga jadi orang Indonesia. Jadi pemuda Indonesia.

(selesai)

Sumpah Pemuda Bagian 1: Siapa Mereka?


I love this picture!

Foto ini diambil di salah satu ruang kelas di Glenroi Public School di Orange, NSW Australia, sekitar November 2002. Aku dan teman-teman berada disana untuk ‘school visit’, kunjungan ke sekolah untuk presentasi budaya Indonesia sebagai bagian dari Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia.

Sebelum pada bubar dan ganti kostum, kami menyempatkan berfoto bersama. Yang berdiri paling kiri pakai baju merah itu Arzal dari Gorontalo, pemain gitar handal bersuara serak-serak basah. Disampingnya Armand dari Bandung, pesilat merangkap penyanyi RnB. Lalu Iqbal dari Aceh, yang jago ngaji tapi suka flirting. Kemudian Dian, gadis metropolis dari Surabaya. Dibelakangnya, Adi dari Nusa Tenggara Timur, sosok nasionalis nan idealis.

Perempuan disebelah dian itu Julia dari Nusa Tenggara Barat, anak teater yang jago baca puisi. Yang baju merah disamping Julia adalah Opik, dari Sulawesi Tenggara. Dibelakangnya, yang senyum simpul pake topi juga, adalah Bang Hendrik, seorang model dari Manado. Dan yang sedang mangap lebar kegirangan itu bang Zul, dari Riau. Disebelahnya ada Petty, dari Gorontalo, the group’s songbird dan terakhir ada Mila dari Palu, si fotografer yang hobi difoto!

Yang ada di deretan bawah sebelah kiri yang agak jongkok itu adalah Ifit, group leader dari Banjarmasin. Disebelahnya adalah wajah yang tak asing lagi: aku, hehehe… si trouble maker dari Medan. Lantas ada Ros, muslimah dari Makassar, disusul Ari dari Palembang yang juga group leader, dan terakhir Dewi dari Padang. Dua orang lagi, Septy dari Jambi dan Iwis dari Bengkulu tidak ikut berfoto.

Sekitar enam bulan kami menghabiskan waktu bersama di Sydney, Orange, Malino dan Makassar pada tahun 2002/2003. Dan foto ini, bagiku, adalah salah satu foto yang bisa menangkap semangat program itu.

Semangat kebersamaan dalam perbedaan.

Sumpah Pemuda Bagian 2: Program Itu…

Pada awal pertemuan, kami hanyalah sekelompok anak muda culun berusia awal duapuluhan yang datang dari daerah. Selama seminggu kami berdelapan belas diberi pelatihan tentang program, sebagai persiapan untuk ‘diekspor’ ke Australia.

Bagaimana sebaiknya berhubungan dengan keluarga angkat atau rekan sekerja, bagaiman sopan santun selama courtesy call dengan pejabat atau etika internasional. Bagaimana mengemas pertunjukan singkat namun bermakna, termasuk untuk menguasai beberapa tari daerah sekaligus. Semua dalam waktu seminggu itu.

Pada akhir pelatihan, kami berdelapan belas pergi ke Australia. Kami disebar dan tinggal bersama berbagai model keluarga angkat. Kami juga magang kerja di berbagai institusi. Dan satu hari setiap minggu, kami mengunjungi sekolah-sekolah untuk ‘memperkenalkan’ Indonesia, utamanya dengan pertunjukan tari dan nyanyi. Ini dilakukan di Sydney dan Orange, kota kecil 3 jam nyetir dari Sydney.


Setelah tiga bulan begitu, kami lalu bertemu counterpart, 18 pemuda Australia, dan kembali ke Indonesia, ke Makassar. Melakukan hal yang kurang lebih sama, tapi ditambah kegiatan community development, di Malino.


Interaksi yang timbul luar biasa kompleks, setidaknya menurut ukuranku saat itu. Bagaimana tidak? Waktu itu aku belum pun genap berusia 21. Emosi masih labil (kayaknya kalo yang ini sampe sekarang, heheh!). Tapi aku harus bertoleransi dengan 17 orang lain yang punya latar belakang berbeda, disaat yang sama! Kami harus mengerjakan project bersama, tapi semua punya hak sama untuk bersuara. Semuanya punya ide. Semuanya merasa idenya paling benar!

Belum lagi, aku harus beradaptasi dengan keluarga angkat yang punya kebiasaan berbeda. Juga kolega di tempat kerja yang kadang tak tau harus menyuruh aku apa. Ditambah berbagai culture performance dimana-mana… oh… tidak…

(bersambung)

Tuesday, October 27, 2009

Yogurt Attack!

Jauh sebelum Personale photo diluncurkan – masih berupa ide, konsep, mirip angan-angan – aku membuat beberapa rencana bisnis. Rencana ‘amatiran’ ini dibuat berdasarkan hasil tanya kiri-kanan ke temen-temen yang lebih dulu berbisnis, baca-baca buku dan pengalaman orang lain, plus tanya ke diri sendiri.

Setelah meluncurkan Personale, aku kemudian mengeksekusi business plan yang lain: usaha Yogurt. Usaha ini dimulai selepas lebaran kemaren dan diberi label NATURALE – home-made yogurt, yogurt rasa buah seperti stroberi, leci, anggur, mangga dan melon.


Sebenarnya, rencana ini sudah ada sejak lama. Niat awalnya adalah membantu kakak iparku yang membuat Yogurt yang super duper enak banget (menurut aku yaaaa!) di Bandung.

Selain itu, kupikir berjualan yogurt bisa membuat aku belajar untuk bertemu langsung orang-orang. You know… doing the ‘actual’ marketing stuff yang biasanya ‘agak malu’ buat dilakukan. Yah, dengan kata lain: memperkuat mental, hahahah!

Oke, jadi wartawan juga ketemu banyak orang dan mesti siap ‘malu’. Tapi, terus terang, ada perbedaan yang BESAR antara keduanya. Jadi wartawan itu banyak previlegenya, kita ‘seolah-olah’ equal dengan nara sumber, dan selalu menempatkan diri di posisi sejajar dengan mereka. Tapi kalo jualan? Boooo… boro-boro! Kalo produk yang dijual nggak oke, dilirik juga nggak!

Serunya, Yogurt kami diterima dengan sukses! Pertama kali dibawa adalah ke acara buka puasa bersama di kompleks. Begitu bedug magrip bunyi, itu yogurt langsung abis! Lalu, aku menawarkannya ke tempat makan bubur ayam langganan aku dan abang di kompleks. Disana juga diterima dengan baik.

Sampai kemudian aku dan abang iseng bertanya ke pengurus salah satu sentra komunitas dalam kompleks yang sering rame bazaar sarapan tiap weekend. Ternyata… ada satu lagi meja kosong! Tanpa harapan tinggi kami memulai. Eeehhh… ternyata nggak sampe dua jam, semua yogurt yang dibawa udah habis!!!

Yang paling rewarding adalah melihat wajah orang-orang saat menyeruput yogurt: kayaknya menikmatiiii banget. Terus senyum sumringah dan bilang, “Enaaakk..!”. Wah, itu rasanya luar biasa! Yang ada si abang selalu ‘ngeledek’, katanya wajahku bersinar-sinar hepi dan segar setiap kali selesai dari bazaar. “Kamu jadi cantik kalo abis jualan yogurt!” Halah!

Nggak cuma itu, we took it to the next level! Thanks to Mbak Chika, dan panitia pesta blogger 2009, aku berjualan yogurt di Bazaar pesta blogger. Hasilnya??? Wuaaaahhh… dari hampir 600an cups yang dibawa, hanya ada sedikit yang tersisa! Yippee!

Bahkan, Stormtrooper (yang ternyata adalah mas wahyu aditya yang terkenal itu!) juga nagih sama yogurtnya, hahaha!

Walaupun jadi nggak bisa bebas haha-hihi di pesta blogger, tapi jadi hepi banget bisa jadi tempat buat ‘melepas dahaga’ para partisipan yang bener-bener kehausan!

Oh, I know, Naturale Yogurt rocks!

Tuesday, October 13, 2009

jangan berhenti.

Sepuluh tahun lalu, aku menerimanya dengan penuh sukacita: sebuah hadiah istimewa dari sahabat. Kuberi ia bingkai dan kugantung di diding kamar. Membaca setiap kalimat dan meresapi artinya dalam-dalam. Tidak jarang sambil mengusap air mata yang bercucuran, disaat-saat yang paling melelahkan. Bahkan hingga kini, ia terlihat selalu relevan.

Hari ini, aku akan kembali menggulirkannya, memberikannya ke tangan-tangan yang mungkin akan membutuhkan, sebagai kawan selama perjalanan...


Don't Quit

by Edgar A. Guest (1881-1959)

When things go wrong, as they sometimes will,
when the road you're trudging seems all uphill,
when the funds are low and the debts are high,
and you want to smile but you have to sigh,
when care is pressing you down a bit -
rest if you must,
but don't you quit.

Life is queer with its twists and turns.
As everyone of us sometimes learns.
And many a fellow turns about
when he might have won had he stuck it out.

Don't give up though the pace seems slow -
you may succeed with another blow.
Often the goal is nearer than
it seems to a faint and faltering man;
often the struggler has given up
when he might have captured the victor's cup;
and he learned too late when the night came down,
how close he was to the golden crown.

Success is failure turned inside out -
the silver tint of the clouds of doubt,
and when you never can tell how close you are,
it may be near when it seems afar;
so stick to the fight when you're hardest hit -
it's when things seem worst,
you must not quit.

Friday, September 18, 2009

Selamat Lebaran!

Sarang ketupat check. Daging sapi check. Bumbu rendang check. Santan check. Teri medan check. Kacang tanah check. Tempe check. Telur puyuh check. Labu siam check. Kacang panjang check. Wortel check. Cabe ijo keriting check. Bumbu dapur check. Semua ada, masukin ke bagasi!

YEAH! Lebaran tahun ini, for the very first time in my life, aku akan masak sendiri: Lontong ketupat medan style! Dengan sedikit dimodifikasi, tentunya. Lontongnya pake ketupat, terus pakai rendang daging, pake sambal goreng teri-kacang, terus tauco tempe-telurpuyuh, dan sayur labu. Hmmm... nyam!

Aku bersemangat! Pulang dari pasar, nyetir sendirian di sepanjang boulevard kompleks dengan jendela terbuka, sambil denger GMHR kenceng-kenceng: semuanya terasa beda! Biarpun lebaran ini nggak mudik ke Medan, tapi hati tetap senang!

Jadiiiii... buat yang nggak mudik yukkkk datang ke rumahku! Mumpung Jakarta gak macet, Cibubur mah bisa ditempuh dalam 15 menit dari kota! hahahah! Kemaren aku juga udah buat kue andalan sejuta umat (cornflakes, kacang mede, coklat chips yang diaduk dalam coklat cair, yummy!). Doakan tahun depan udah bisa masak cookies sendiri ya!

Selamat lebaran semuanya!!!


Saturday, September 05, 2009

Keberanian itu...

*ini adalah cerita tentang “kenapa?”. Juga untuk Bapak yang sukses membuat aku malu, huhuhu*


Pertengahan Mei 2004, sehari setelah wisuda. Aku mengepak beberapa potong baju, sebuah sleeping bag usang pemberian seorang sahabat baik, juga ‘Sepernova: Akar”-nya Dewi Lestari ke dalam sebuah tas ransel hitam nan kokoh milik adikku.

Tiket pesawat Medan-Jakarta sudah ditangan. Juga uang enam ratus ribu rupiah hasil tabungan. Tekad bulat dan keberanian serupa pejuang menggelora dalam dada. Kucium tangan papa dan mama, dan berlalu untuk sebuah perjalanan tak pasti. Mereka pasrah. Ini toh sudah ‘kusiapkan’ dari jauh hari. Bukan keputusan spontan untuk sekedar meningkatkan ‘gengsi’. Tujuannya adalah perjalanan itu sendiri. Harapannya sederhana: aku hanya ingin mampu berdiri sendiri.

Orang tuaku takut. Sahabatku takjub. Para kolega menganga. Yang lain geleng-geleng kepala. Aku terlalu ‘nekat’, katanya. Apalagi, aku memutuskan untuk berhenti dari Tempo (dan tentunya merelakan diri untuk tidak lagi menjadi bawahan-nya Ndoro Kakung yang saat itu namanya masih ‘Mas Wicak’ doang!)

Mau apa? Mereka tanya. Mau belajar hidup, aku menjawab tersenyum. Memberikan sorot mata paling meyakinkan. Dan tak memberi ruang kepada siapapun untuk melihat kilatan keraguan dan ketakutan disana. Mantraku sakti: Aku Pasti Bisa.

Hidup begitu berwarna saat itu. Semangat backpacking sampai entah kemana berkobar dengan dahsyatnya, walau pada akhirnya aku ikut jadi relawan di sebuah festival seni, Jak@rt 2004 keliling jawa-bali dan gila-gilaan dengan sahabat-sahabat baru yang seperti keluarga. Setelahnya, aku tinggal di rumah ‘orang tua angkatku’ dan bekerja apa saja. Mengoptimalkan seluruh indra dan kemampuan. Sampai akhirnya mampu ‘menghadiahi’ diri sendiri sebuah kamar kos murah di bilangan setia budi. Mendapatkan pekerjaan di sebuah media prestisius dan berkantor di jantung kota Jakarta, melihat bunderan HI sambil menyeruput teh pagi.

Dengan dada membusung dan dagu terangkat aku bisa bilang pada orang tuaku - juga semua - bahwa aku bisa.

...sampai sekarang.

Saat hidup terasa stagnan. Saat pekerjaan yang dulu disukai mulai terasa hambar seperti tak bergaram. Saat aku menyadari, aku benar-benar butuh perubahan.

Maka, seperti yang pernah kuretas dulu, aku menyiapkan diri. Tidaklah mudah melakukannya lagi. Apalagi dengan segala kenyamanan dan fasilitas yang pernah dimiliki. Takut, itu yang dikatakan hati.

Tapi, dulu seorang sahabat baik pernah mengutip kata-kata seorang bijak. Kutipan yang hingga kini masih tetap kuingat.

“Merasa takut, tapi tetap berjalan, itulah keberanian...”

Aku percaya Tuhan tidak tidur. Dan aku yakin, aku pasti bisa. Seperti yang aku baca entah dimana: “So many of our dreams at first seem Impossible, then they seem Improbable, and then when we Summon the Will, they soon become Inevitable."

Toh, aku sudah pernah membuktikannya.