Tapi, dibalik semua konflik yang kayaknya bikin kepala puyeng dan tidur tak nyenyak selama enam bulan itu, ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik.

Kalau nggak ikut program pertukaran itu, aku nggak bakal pernah bener-bener ngerasain kalo Indonesia ini terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku bangsa, dan macem-macem orang yang punya latar belakang dan kebudayaan berbeda. Dan betapa SUSAHNYA, menyatukan visi misi.
Soalnya, kadang-kadang biarpun TUJUANnya udah sama, tapi kerjakan dengan cara yang berbeda dikit aja, udah bisa bikin sebagian orang ngamuk-ngamuk! Padahal, nggak ada yang salah juga. Cara yang berbeda bukan berarti salah kan?
Aku belajar menerima perbedaan budaya sepanjang program. Belajar bertoleransi dengan orang lain. Belajar untuk sesekali diam dan mendengarkan pendapat orang lain. Belajar untuk menghargai, siapapun orangnya.
Kalo nggak ikut program itu, aku nggak akan pernah menangis waktu nyanyiin lagu “Indonesia tanah air beta…” sambil mencium bendera. Nggak akan pernah merasaan kebahagiaan yang berbuncah-buncah saat orang-orang bule itu memberikan standing ovation pada pertunjukan tari kolosal Rebana Aceh yang kami sajikan. Kalo nggak ikut program, mungkin aku nggak akan segitu sadarnya dengan kekayaan budaya Indonesia yang melimpah ruah dan biking menganga.

Hari Sumpah Pemuda kali ini, membuatku membolak-balik album lama dan mendapati diriku tersenyum bahagia. Bahagia, karena aku bangga jadi orang Indonesia. Jadi pemuda Indonesia.
(selesai)







